
<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="11069">
 <titleInfo>
  <title>PEREMPUAN MULTIKULTURAL NEGOSIASI DAN REPRESENTASI</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>EDI HAYAT</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>MIFTAHUS SURUS</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm>
   <publisher>DESANTARA</publisher>
   <dateIssued>2005</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xviii + 308 hlm.; il.; 15 x 22 cm.</extent>
 </physicalDescription>
 <note>ADA pernyataan menarik yang diajukan Melani Budianta saat menulis makalah tentang perempuan subaltern. Siapakah perempuan subaltern? Apakah penyanyi perempuan tradisional yang suara dan gayanya telah mendorong anaknya yang berumur 8 tahun itu; sehingga mengganti chanel yang lebih sesuai dengan seleranya; atau mereka yang dikonseptualisasikan secara abstrak dalam makalah Melani?rnrnAtaukah subaltern adalah pembantu rumah tangganya yang pekerjaannya dan suaranya yang tak terdengar; sehingga telah memberikan kesempatan dan kemewahan bagi Melani untuk menulis makalah?rnrnContoh yang dibuat oleh Melani; tidak saja membuktikan betapa tidak mudahnya melakukan maping terhadap perempuan yang tertindas; tetapi juga persoalan lebih dasar; siapa perempuan subaltern? Menjadi semakin menarik; karena beberapa kalangan juga menyesalkan 'ideologi pukul rata' yang dilakukan oleh feminis; yang justru menjadi bentuk baru kolonialisasi perempuan atas perempuan.rnrnBahwa ada sebagian feminis yang tak melihat persoalan perempuan tanpa melihat geografi; demografi; tingkat pengetahuan serta perkembangan teknologi dan informasi. Semangat gebyah-uyah yang justru dianggap menghilangkan subyek perempuan subaltern dengan segala siasat dan resistensinya.rnrnMenjadi semakin lengkap; saat aliran-aliran feminis global; radikal; liberal; marxist maupun sosialis yang dijadikan acuan; terkadang begitu saja di-breakdown oleh feminis Indonesia. Rumitnya perempuan subaltern inilah yang tampaknya; mencoba dikupas di buku Perempuan Multikultural; Representasi dan Negosiasi. Ada pertanyaan-pertanyaan menggelitik yang mencoba disuarakan. Semisal pertanyaan yang dilontarkan oleh Manneka Budiman; saat feminis Kanada menolak pornografi yang dianggap mengeksplorasi perempuan; para artis porno--yang perempuan juga--; berdemonstrasi atas lahirnya UU yang membatasi pekerjaan mereka. Manakah yang harus diprioritaskan? Apakah kaum feminis Kanada atau justru artis pornonya? Atau pertanyaan yang diajukan Donny Gahral Adian tentang; atas dasar apakah penindasan terjadi? Karena jenis kelaminkah? Atau karena ras? Karena Etnis; atau karena kelas?rnrnJamaknya; feminisme secara konsisten memperjuangkan kesetaraan gender; yang berarti mengubah kultur patriarkhi yang monolitik; menjadi multikultur. Bahwa ada fenomena perempuan ditindas; ada pula keinginan dari feminis untuk melakukan advokasi; sehingga konklusi ini menjadi klop antara agenda feminis yang berarti menghilangkan penindasan yang artinya juga menjadi salah satu komponen dari agenda multikultural. Tetapi ketika kategorisasi itu salah diterapkan; alih-alih memberdayakan; yang terjadi justru bentuk baru imperialisme.rnrnTulisan yang dibuat oleh Mohanty tentang perempuan Dunia Ketiga cukup tegas memberi gambaran itu. Bahwa gerakan feminis Barat yang niatnya mulia; justru berakibat fatal dengan semakin tertindasnya perempuan Dunia Ketiga setelah sebelumnya ditindas laki-laki dan kapitalisme. Sejurus dengan Mohanty; Ahmad Baso juga menjadikan feminis postkolonial India; Gayatri Chakravorty Spivak sebagai alat untuk merekonstruksi gerakan feminisme yang justru ikut menghakimi perempuan dunia ketiga yang powerless.rnrnBuku ini memang tidak dikhususkan untuk mencari way laut atas beragam problem tadi; tetapi sebagai pelengkap perspektif. Buku ini juga menarik untuk dikaji terutama bagi kaum feminis sehingga lebih arif dalam melihat persoalan terutama tentang perempuan subaltern. Alih-alih keinginan untuk melakukan advokasi; justru menjadi bumerang bagi perempuan subaltern.rnrnDari titik inilah tampaknya; gerakan feminis harus lebih cerdas untuk menafsirkan kategorisasi tentang perempuan subaltern yang ada di sekitarnya; sehingga; mereka tidak menjadi imperialis baru. Bahwa; dalam setiap hegemoni selalu ada resistensi sebagaimana kata Edward W Said; patut untuk disimak kembali.</note>
 <subject authority="">
  <topic>WANITA</topic>
 </subject>
 <classification>300</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Dempoers Library Book is My Life Style</physicalLocation>
  <shelfLocator>305.4 PER</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">887/07</numerationAndChronology>
    <sublocation>My Library (RAK UMUM)</sublocation>
    <shelfLocator>305.4 PER</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>29_PERMUL.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>11069</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">0000-00-00 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">0000-00-00 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>