Image of SOEGIJA 100% INDONESIA

Text

SOEGIJA 100% INDONESIA



Awalnya saya perkirakan; Soegija adalah bagian dari ajaran Nomensen. Tetapi itu salah. Suatu ketika salah seorang rekan kerja saya bilang; “Soegija; dipanggil Soegiyo.” Dan; semakin tertariklah saya menelusuri Soegija. Apalagi; kondisi sosial-dominan “memaksa” pikiran saya untuk mengurai sosok Soegija. Sosial-dominannya; atas kemarakan film Soegija; yang disutradarai oleh sutradara film-film komersil; Garin Nugroho; dan dibintangi oleh salah seorang penyair “fenomenal”; Nirwan Dewanto. Pun adanya diskusi-diskusi publik yang mengangkat perihal Soegija; sehingga menyebabkan pula diskusi-diskusi koprok (istilah dari akronim “kopi dan rokok”).rnrnSuatu ketika; saat saya ke toko Gunung Agung; Kwitang; Jakarta Pusat; saya melihat sebuah buku kecil bernuansa sejarah yang dikemas ala buku populer. Desainnya menarik. Ulasannya sedikit ringan. Dan; penulisnya adalah salah seorang penulis sastra berbau “selangkangan”; Ayu Utami. Niat ingin membeli buku 5 Kota Berpengaruh di Dunia; eh ternyata bukunya sudah ditarik. Daripada pulang tangan kosong; akhirnya saya putuskan membeli buku Soegija 100% Indonesia buah tangan Ayu Utami; dan semajalah Tempo.***rnrnMalam menjelang Hari Natal; tepatnya tanggal 24 Desember; tahun 1910; pada malam hari Soegija di baptis. Usianya telah memasuki angka 14 tahun; sedang belia dengan psikologi belum matang dalam prinsipil sehingga mudah terpengaruh. Di saat itulah; ia memilih nama permandiannya; Albertus Magnus.rnrnSoegija (baca: Sugiyo) lahir 25 November 1896; di Soerakarta; Jawa Tengah. Nama lengkapnya; Mgr. Albertus Soegijapranata. Keluarganya terbilang cukup mapan; bahkan lebih dari cukup. Ia bukan rakyat biasa; melainkan bagian dari Abdi Dalem Kasunanan Surakarta. Karena dasar latar keluarga itulah ia berkesempatan masuk ke suatu sekolah yang cukup prestise.rnrnDari sekolah Kolose Xaverius Muntilan; Soegija mendapatkan kesempatan bersekolah memperdalam ilmu ke Eropa. Ia direstui oleh gurunya; Romo Frans van Lith –bernama lengkapFranciscus Georgius Josephus van Lith. Frans van Lith merupakan pendiri sekolah Kolose Xaverius Muntilan. Tergabung sebagai Yesuit Oirschot; Belanda. Paus Yohanes Paulus II memercayainya sebagai penopang atau penancap kristen di Jawa; khususnya di Jawa bagian tengah; saat Paus tersebut berpidato di Yogyakarta; 1989. Frans van Lithlah orang yang mampu menyelaraskan ajaran kristen terhadap tradisi-tradisi Jawa –selayaknya Nomensen dalam penyebaran Kristen Protestan di tanah Batak. Di tangannyalah banyak orang pribumi masuk ke dalam ajaran Kristen; awalnya mencapai 170-an orang; di Kulon Progo.rn rnSejak itulah; Soegija dikenal orang-orang; yang mengenalnya sejak kecil; telah memasuki fase dan dunia baru; dunia kepercayaan yang baru baginya; Kristen. Sebelumnya; Soegija merupakan individu yang menganut kepercayaan Islam-Jawa. Ia mulai terpengaruh pikiran-pikiran kekristenan sejak studi di Kolose Xaverius Muntilan. Sekolah ini terbilang prestise; dibandingkan sekolah-sekolah lainnya yang ada pada saat itu. Konsep sekolahnya ialah pengasingan –suatu konsep pendidikan yang sangat efektif. Apalagi di dalam bahasa pengantarnya; sekolah ini menggunakan tiga bahasa sekaligus; yaitu bahasa Melayu; bahasa Jawa; dan bahasa Belanda. Ia pun tinggal di asrama; di Kolose Vaverius Muntilan itu. Di sekolah itulah ia mulai memikirkan perihal kepercayaan yang dianutnya dan perihal kepercayaan yang akan dianutnya. Niat awalnya sekolah di sini hanyalah ingin menjadi guru; seperti apa yang tertulis; “Saya hanya mau belajar untuk menjadi guru di sini. Tidak mau masuk Kristen;” kata Soegija ketika akhirnya bertemu lagi dengan Romo Frans van Lith dan rektor kolose; Peter J.A.A (hlm. 50)rnrnPada akhirnya kita dapat pahami; dari pembacaan buku Soegija 100% Indonesia ini; bahwa orang besar mampu “berkarya” besar pula melalui: melahirkan orang besar dan memberikan pengaruh besar terhadap lingkungannya. Soegija. Soegija memiliki dua orang “pengikut” atau murid yang terbilang berpengaruh pula. Keduanya; yaitu YB Mangunwijaya dan Romo Hardjawardja. Yusuf Bilyarta (YB) ditahbiskan pada tahun 1959. YB merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dan memiliki andil besar di dalam beberapa bidang; seperti kesusastraan; kepenulisan; kearsitekan; dan bahkan sebagai aktivis sosial. Kedua murid Soegija ini berperan penting di ranah seni.***rnrnPada suatu ketika; saya membaca ulasan penulis buku ini di koran Sindo pada Minggu 10 Juni. Ia mengangkat ulasan “100% Kristen 100% Indonesia”. Pernyataan Soegija itu jadi manuver bagi sekelompok agama yang acapkali bersikap brutal. Dinyatakan kelompok itu bahwa film Soegija itu merupakan kristenisasi. Mengenai cara pikir yang benar; saya setuju dengan Ayu Utami; bila ingin memprotes konsepsi itu mestilah mengetahui dahulu sejarahnya; baik sejarah individu Soegija maupun konteks sosial waktu itu.rnrnMaksud rumusan itu ialah manjadi Katolik tanpa meninggalkan nilai-nilai pribumi. Sebenarnya inilah cara memengaruhi pihak lain. Secara sederhananya; bila Anda adalah Mr. X dan Anda ingin mendekati Mrs. T; maka Anda mestilah menjadi dan menghargai Mrs. T tersebut. Di sanalah peran hegemonis berproses; yang tidak akan kita temui secara deskriptif di dalam buku ini. Dengan pembacaan buku ini; setidaknya kita sedikit paham sejarah konsepsi dan latar sosial-politik waktu itu.


Ketersediaan

26/13920 UTA sMy Library (RAK UMUM)Tersedia

Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
920 UTA s
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.,
Deskripsi Fisik
x + 147 hlm.; il.; 17 x 19 cm.
Bahasa
Bahasa Indonesia
ISBN/ISSN
9789799104540
Klasifikasi
920
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subyek
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this