Detail Cantuman
Advanced SearchText
TAN MALAKA; GERAKAN KIRI; DAN REVOLUSI INDONESIA (JILID I): AGUSTUS 1945 - MARET 1946
Jika Indonesia takut mengorbankan 1 atau 2 juta rakyatnya [...] kelak 70 juta orang Indonesia akan dikorbankan selama-lamanya buat budak dalam kebun; pabrik dan tambang bangsa asing.rnTan Malaka; Moeslihat (1945)rnrnBuku ini sebenarnya sudah nongkrong di lemari gw sudah setahun lebih. Tapi karena tebal halaman yang ratusan (lebih!) dan ukuran font yang kecil serta konten yang serius selalu saja membuat gw males untuk menyentuh apalagi membacanya. Baru setelah gw putus dari KRL Commuter Line; gw jadi punya waktu kurang lebih 1;5 jam di pagi hari yang bisa gw gunakan untuk membaca; akhirnya buku ini jatuh juga ke tangan gw.rnrnrnBuku ini dulu gw beli pada saat gw sedang tertarik-tertariknya mempelajari mengenai PKI atau Partai Komunis Indonesia. Berbicara mengenai PKI tentunya tidak akan bisa lepas dari tokoh – tokoh komunis Indonesia; salah satunya adalah Tan Malaka. Tokoh komunis Indonesia yang sangat elusif dan misterius. Saking misteriusnya; bahkan Tan Malaka sering diceritakan sebagai mitos.rnrnTan Malaka; Gerakan Kiri; dan Revolusi Indonesia Jilid 1: Agustus 1945 – Maret 1946; sesuai dengan judulnya menceritakan tentang sepak terjang Tan Malaka pada periode menjelang dan persis setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Diceritakan bagaimana Tan Malaka melewatkan kesempatan untuk dapat ikut berperan dalam peristiwa yang telah dicita-citakan seumur hidupnya yaitu kemerdekaan Indonesia. Tan Malaka yang sudah 20 tahun hidup dalam pelarian; akhirnya pada tahun 1942 kembali ke tanah Indonesia. Namun karena terlalu lama hidup dalam pelarian; Tan Malaka putus hubungan dengan tokoh – tokoh pergerakan kemerdekaan yang ada di tanah air; sehingga walaupun posisi Tan Malaka pada saat persiapa proklamasi kemerdekaan itu ada di Banten (dekat dengan Jakarta); Tan Malaka tidak memiliki kesempatan untuk turut berkecimpung dalam persiapan kemerdekaan yang diidam-idamkannya itu.rnrnHilangnya kesempatan ikut serta dalam persiapan kemerdekaan itu; tidak membuat Tan Malaka lalu menjadi apatis dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Justru semangat Tan Malaka menjadi semakin menggebu-gebu untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diraih itu. Dan; perjuangan itu dituangkan oleh Poeze dalam buku ini.rnrnMembaca buku karangan Poeze ini; gw berasa bisa membayangkan kondisi dan situasi akhir tahun 1945 sampai awal tahun 1946. Deskripsi yang diberikan oleh Poeze sangat rinci dan mendetail. Bahkan Poeze banyak sekali mengutip tulisan-tulisan yang diterbitkan pada tahun itu. Sumbernya dari surat kabar; karya para tokoh – tokoh di masa itu; selebaran; dll. Tulisan – tulisan itu pun dikutip dalam ejaan aslinya (ejaan lama) sehingga membangkitkan suasana yang pas.rnrnWalaupun mengangkat Tan Malaka sebagai inti dari ceritanya; Poeze berusaha memberikan gambaran menyeluruh mengenai persiapan kemerdekaan yang tidak diikuti oleh Tan Malaka. Bagaimana kondisi sosial politik antara tokoh muda dengan tokoh tua dan bagaimana peranan mereka. Dari membaca buku ini; gw menjadi lebih tahu dengan detil bagaimana persiapan proklamasi itu. Apa yang mendasari peristiwa penculikan Sukarno – Hatta ke Rengasdengklok. Siapa yang mengusulkan dan bagaimana ketegangan yang terjadi pada masa itu. Dari sini pula gw jadi lebih tahu mengenai peristiwa di Lapangan Ikeda yang terkenal itu. Latar belakang dan runutan kejadiaannya. Ditambah lagi Poeze menyertakan narasinya itu dengan foto -foto yang diambil pada jaman itu.rnrnCara Poeze bercerita di buku ini; lebih seperti penulisan karya ilmiah. Tidak heran sih; karena buku ini merupakan terjemahan dari disertasi Harry Poeze untuk program doktoralnya di Universitas Amsterdam. Oleh karena itu; sewaktu membaca buku ini terkesan sekali bahwa riset yang dilakukannya sangat menyeluruh dan dia berusaha untuk objektif; memandang dari semua sisi. Baik sisi pendukung Tan Malaka; sisi penentang; maupun sisi orang yang netral dalam memandang beliau.rnrnLewat buku ini gw berasa diperkenalkan bukan hanya kepada Tan Malaka; tapi juga pada tokoh – tokoh pemuda jaman pergerakan kemerdekaan seperti Sukarni; Chaerul Saleh; Sayuti Melik; Adam Malik; maupun Sjahrir. Buku ini juga memberikan perspektif baru mengenai Sukarno dan Hatta. Bagaimana posisi dan tindakan mereka dilihat oleh kaum pemuda pada jaman itu. Bagaimana politik dalam dan luar negeri pemerintah dihadapkan kepada kehendak rakyat. Sehabis membaca buku ini juga; gw baru tahu kalau Jendral Sudirman pernah sepemikiran dengan Tan Malaka dengan merdeka 100%-nya.rnrnBuku ini juga memberikan gambaran lebih detail mengenai hal – hal yang dulunya sering disebut – sebut dalam sejarah yang diajarkan semasa sekolah (SD sampai SMU) tapi hanya sekilas lalu. Seperti tentang pembentukan KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat); bagaimana terbentuknya sistem parlementer yang pada akhirnya dipimpin oleh Sjahrir; dll.rnrnMengenai Tan Malaka sendiri; sehabis membaca buku ini gw jadi kagum akan karakternya yang tegas dan tidak mau kompromi (terlihat dari quote di awal postingan ini). Merdeka 100% adalah prinsip perjuangan yang selalu beliau gadang – gadangkan. Usir semua bangsa asing yang akan mengancam kemerdekaan Indonesia dari tanah air tanpa kompromi. Perundingan baru bisa berjalan kalau mereka sudah pergi dari tanah Indonesia. Atas kondisi ini; Tan Malaka bilang memangnya kalau ada maling masuk ke rumah kita akan kita ajak berunding dulu? Tidak kan? yang ada adalah kita usir dulu dari rumah barulah kita berunding dengan dia.rnrnTerasa sekali dari pemikiran-pemikiran Tan Malaka bahwa beliau ini seorang komunis yang menganggap satu – satunya jalan untuk mencapai kemerdekaan adalah dengan aksi massa dan revolusi sosial. Negara Indonesia ini haruslah dibangun dengan bertumpu pada rakyat; kaum buruh dan proletar. Kapitalisme dan kolonialisme harus dihapuskan dan tidak ada kata kompromi.rnrnBuku ini cocok dibaca bagi yang ingin tahu sejarah Indonesia terutama di awal kemerdekaan. Buku ini juga sumber yang bagus jika kita ingin mengenal lebih dalam tentang Tan Malaka dan tokoh – tokoh gerakan kiri pada jaman itu. kalau dari gw sih; buku ini really really recommended karena bisa memberikan perspektif lain dari sejarah kemerdekaan Indonesia; beda dari apa yang selama ini kita dapatkan.
Ketersediaan
| 216/13 | 959.8 POE tm I | My Library (REFERENSI) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
959.8 POE tm I
|
| Penerbit | YAYASAN OBOR INDONESIA : Jakarta., 2012 |
| Deskripsi Fisik |
xii + 474 hlm.; il.; ind.; 16 x 24 cm.
|
| Bahasa | |
| ISBN/ISSN |
9789794616970
|
| Klasifikasi |
950
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






