Detail Cantuman
Advanced SearchText
LAMPAU: YANG MENJELMA KINI, YANG MEWUJUD LALU
Saya tidak ingat persis tanggalnya, di pertengahan Juni 2013, saya pergi ke toko buku dan pulang dengan tangan kosong karena tidak menemukan buku menarik untuk dibeli. Sempat saya melirik ke rak best seller, sudah bisa ditebak buku-buku apa yang bertengger di sana. Para tokoh politik berlomba-lomba membuat biografi, yang membuat saya berpikir, orang bodoh mana yang mau menghabiskan uangnya untuk membeli sebuah kampanye terselubung yang dijilid tebal? Sisanya, rak best seller-pun di isi oleh ‘yang itu-itu lagi’; novel remaja ber-setting Korea, buku-buku motivasi (dengan cover penuh wajah motivator yang membikin mual), dan buku yang isinya kumpulan twit.
Beberapa hari kemudian, seorang teman memberi saya buku. Melihat logo penerbit di sampul buku itu, saya rasanya ingin segera menolak. Penerbit itu terkenal dengan chick-lit popular yang jadi langganan best seller. Bukannya saya sok pintar dan hanya ingin membaca karya-karya serius, tapi membaca tulisan di belakang buku-buku seperti itu, cukup membuat saya tahu bagaimana ceritanya akan berakhir.
“Gue kira buku romantis gitu. Eh, ternyata sastra banget. Pusing gue. Buat lo aja.” kata gadis metropolitan yang sering belanja di SOGO itu. Kasihan, uangnya sudah terbuang empat puluh delapan ribu rupiah untuk buku ini. Kalau uang sejumlah itu dibawa ke Starbucks, dapat secangkir kopi. Dan wi-fi gratis. Jangan pernah lupakan wi-fi gratis.
Akhirnya saya terima buku itu tanpa harapan apa-apa. Saya saat itu yakin, bahwa jalan cerita buku itu tidak akan berbeda dengan novel populer romantis pada umumnya; perempuan lajang yang mapan finansial, bertemu laki-laki eksentrik, dia harus memilih si laki-laki itu atau bosnya yang lebih charming dan mapan, akhirnya dia kawin dengan si laki-laki eksentrik.
Buku bersampul biru dengan motif sulur pohon itu sempat saya acuhkan beberapa jam. Biasanya, begitu membeli buku saya akan membacanya sesegera mungkin. Malamnya, ketika saya susah tidur, dengan iseng saya pun membacanya…
…dan tidak bisa berhenti sampai halaman terakhir. Saya tertipu.
Buku ini sama sekali bukan buku pop. Tidak ada tokoh utama perempuan yang wangi dan berkantor di gedung tinggi kawasan Sudirman. Tokoh utamanya justru anak pedalaman Kalimantan, dari Suku Dayak Meratus, bernama Ayuh. Tidak ada konflik percintaan dengan atasan yang berbaju rapi dan membawa dokumen perusahaan MNC di kopernya. Konflik dalam novel ini justru seorang anak, keturunan dukun paling sakti di Meratus, yang ingin melanjutkan sekolah, meninggalkan garis keturunannya.
Masih ada ‘bumbu’ kisah cinta dalam buku ini. Namun bumbunya tidak berlebihan seperti yang anda temukan di makanan-makanan cepat saji. Kisah cinta dalam buku ini dikisahkan pendek-pendek, tanpa pelukan, tanpa kata-kata gombal. Cinta itu sederhana saja; kenangan tentang gadis berkepang dua bernama Ranti, pohon kresen yang menjadi saksi perpisahan mereka dan kenangan masa kecil.
Menurut saya, kekuatan paling besar dalam buku ini adalah settingnya yang membawa ke sebuah tempat yang belum terjangkau pikiran kita. Kehidupan yang jauh dari gedung-gedung tinggi, kemacetan yang kita buat dan kutuki sendiri, polusi yang kita buat dan kita protesi sendiri dan banyak perbuatan bodoh lagi. Kehidupan dimana berjalan jauh untuk bersekolah dianggap biasa. Kehidupan magis, dimana anak yang hampir mati, tak berdaya tinggal tulang-kulit, bisa sembuh oleh tarian seorang balian.
Membaca buku ini, anda akan dikenalkan dengan tokoh-tokoh komikal. Amang Dulalin, contohnya. Paman Ayuh yang betah hidup tanpa menikah dan memenuhi kamarnya dengan buku-buku sastra juga poster perempuan bule hadiah dari membeli celana jeans. Firly juga dengan santai membawa kita dalam percakapan-percakapan anak kecil yang tak jarang mengundang gelak tawa. Saya kutipkan satu favorit saya:
“Saat itu, aku pulang sekolah bersama pasukanku. Balai Malaris, yang biasanya damai tenteram, tiba-tiba penuh sesak dengan orang-orang hampir sekampung. Setahuku, panen besar baru saja lewat dengan upacara yang cukup meriah. Apakah ada yang sakit atau meninggal dunia?
‘Ada apa, Ayuh?’ Tuma bertanya di sampingku.
‘Mungkin ibumu barusan diseruduk babi hutan’…”
Kalau harus menentukan bagian yang paling saya suka, saya akan memilih kalimat yang memungkasi buku ini, “Kita memang tidak pernah tahu.“
Juga kalau harus menentukan bagian mana yang paling tidak saya suka dari buku ini, saya menemukan beberapa pengetikan, font dan kalimat yang blunder di dalamnya. Selebihnya, buku ini amat layak anda beli ketimbang secangkir kopi di Starbucks.
Ketersediaan
| 412/14 | 813.08 FIR l | My Library (RAK UMUM) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
813.08 FIR l
|
| Penerbit | Gagas Media : Jakarta., 2013 |
| Deskripsi Fisik |
345 hlm.; 13 x 18 cm.
|
| Bahasa |
Bahasa Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
9789797806200
|
| Klasifikasi |
810
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






