Image of VERSUS: SELALU ADA HARAPAN DI ANTARA PERBEDAAN

Text

VERSUS: SELALU ADA HARAPAN DI ANTARA PERBEDAAN



Bisa dibilang tahun 2013 itu tahun nostalgia bagi remaja generasi 90-an. Sebuah buku berjudul Generasi 90-an sempat menjadi buku best seller. Kemudian, melalui jenis media lain seperti majalah, radio, internet, semakin banyak orang melakukan nostalgia dalam karya mereka. Salah satunya Robin Wijaya, dalam Versus buku keempatnya di GagasMedia ini, dia mengambil penceritaan ala nostalgia. Penyebutan barang-barang khas tahun 90-an di dalamnya cukup menarik.

Ada tiga tokoh yaitu Amri, Chandra, dan Bima. Masing-masing mempunyai kesempatan bercerita dari sudut pandang masing-masing. Walaupun bukan barang baru, tampaknya menggunakan ragam sudut pandang menjadi populer lagi akhir-akhir ini. Pun penceritaan sebuah novel yang mendapatkan KLA 2013. Mungkin penulis merasa lebih bisa mengeksplorasi cerita jika diceritakan melalui kata-kata tokoh yang terlibat. Syarat menggunakan penceritaan begini adalah penulis harus mampu memperkokoh tokoh tidak hanya sekadar deskripsi fisik, sifat, dan pola pikir, tetapi juga cara berkomunikasi melalui bahasa tulis. Tentu kita tahu tidak ada orang yang benar-benar mirip cara dan pilihan katanya saat berbicara atau menulis. Makanya, katanya, hanya sedikit penulis yang mampu membuat penokohan yang sangat kuat, hingga dari cara berceritanya, yaitu penulis tetralogi Buru. (sumber) Robin Wijaya cukup cerdik menggunakan tiga kata ganti orang pertama untuk setiap fragmen ketiga tokoh. Amri memakai “aku”, Chandra memakai “gue”, dan Bima memakai “saya”. Bahasanya dibedakan dengan baku-tidak bakunya pilihan kata. Namun, nada bercerita mereka masih cenderung sama. Suara penulis masih tampak di setiap suara tokoh.

Beralih ke masalah tema lagi. Sesuai sub judul di sampul, “Selalu ada harapan di antara perbedaan”, aku berharap akan menemukan cerita tentang perbedaan. Ya, setelah adegan pemakaman tokoh Bima, ada adegan dua tokoh yang lainnya membahas tentang masih ada sentimen antaretnis di Indonesia. Chandra, keturunan etnis Tionghoa, mengecam salah satu komentar seorang pengacara di koran terhadap wakil gubernur DKI Jakarta. Jadi, aku berharap sesuatu tentang ini akan menjadi penggerak cerita. Apalagi nostalgia para tokoh adalah sekitar akhir tahun 1997 hingga pertengahan 1998. Bagi yang belajar sejarah di sekolah, kita tahu kerusuhan di bulan Mei menjadi peristiwa penting bagi rakyat Indonesia.

Namun, seperti fragmen (arti: bagian atau pecahan sesuatu), tema perbedaan etnis ternyata bukan tema utama. Tema itu saling berebut dengan tema lain seperti keluarga, perseteruan antarkampung karena perempuan, dan orientasi seksual. Tampaknya penulis ingin menceritakan banyak jenis perbedaan yang terjadi di Indonesia. Banyak menyorot perbedaan itu membuat novel ini tidak fokus. Mungkin karena itu dipilihlah penyajian dengan fragmen (terpecah). Akibatnya tema hanya sekadar masalah permukaan saja. Yang dibahas hanya hal yang sudah sama-sama diketahui oleh pembaca (jika pembaca buku ini dewasa muda).

Selain itu, dalam menyampaikan pesan-pesan “perbedaan” dan masalah-masalah yang ada di masyarakat, Robin belum menyatukannya dengan cerita. Alih-alih, dia berceramah melalui tokoh-tokohnya. Aku membaca beberapa narasi atau dialog yang seakan diambil dari buku nonfiksi atau koran nasional. Padahal novel memberi banyak ruang bagi penulis untuk memperlihatkan secara langsung kejadian yang hanya bisa diberitakan oleh media tulisan lain. Itu sering disebut “show not tell” oleh para pengajar penulis. Jika ingin berceramah, kenapa tidak membuat surat pembaca di koran saja? Apalagi tampaknya bahasa nonfiksi penulis juga cukup bagus.

Kecenderungan cermaah itu juga tampak pada bagaimana penulis menyajikan penyelesaian sebuah masalah yang diciptakannya sendiri. Ya, tanpa membuat adegan klimaks dan anti klimaks yang pantas bagi pembaca, yang dilakukan penulis adalah membiarkan tokohnya menjadi jurnalis. Penulis seenaknya memotong fragmen 1 dan 2 tanpa menyelesaikan masalah yang ada di pihak Amri dan Chandra. Pada fragmen terkahir, dari penceritaan Bima, dia membiarkan Bima telling kepada pembaca tentang kelanjutan masalah dua tokoh sebelumnya. Sayangnya, proses penyelesaikan masalah itu tidak ada. Aku lihat untuk setiap sub-plot, selalu saja begitu.


Ketersediaan

414/14813.08 WIJ vMy Library (RAK UMUM)Tersedia

Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
813.08 WIJ v
Penerbit Gagas Media : Jakarta.,
Deskripsi Fisik
318 hlm.; 13 x 18 cm.
Bahasa
Bahasa Indonesia
ISBN/ISSN
9789797806705
Klasifikasi
810
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subyek
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this