Detail Cantuman
Advanced SearchText
NOTASI SUATU HARI AKU AKAN KEMBALI
Rasanya, sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung.
Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya;
tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.
Segera setelah semuanya berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.
Itulah yang dikatakannya sebelum dia pergi.
Dan aku mendekap erat-erat kata-kata itu, menanti dalam harap.
Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa alamat darinya.
Kini, di tempat yang sama, aku mengurai kembali kenangan-kenangan itu…
Morra Quatro adalah seorang novelis yang hobi menulis sejak remaja, namun baru menekuni hobinya ini pada tahun 2007 saat ia bergabung dengan salah satu komunitas menulis online. Notasi merupakan novel ketiga Morra Quatro dengan total 300 halaman yang baru saja diterbitkan oleh Gagas Media pada akhir April lalu.
Notasi bukanlah novel pertama Morra. Novel sebelumnya yang berjudul ‘Believe’ dan ‘Forgiven’ tercatat pernah masuk sebagai nominasi novel terfavorit di Anugerah Pembaca Indonesia 2011. Tak heran, novel ketiganya ini mampu membius para pembaca oleh penggunaan diksinya yang cantik namun tak berlebihan.
Notasi berlatar waktu pada era reformasi dan menggunakan alur campuran. Novel percintaan yang disuguhkan di tengah-tengah kekacauan Indonesia yang di eksekusi Morra dengan nyaris sempurna. Sehingga para pembaca bisa membayangkan dan ikut merasakan situasi yang sedang terjadi. Tokoh utama wanita, Nalia, merupakan seorang mahasiswi fakultas kedokteran gigi di Universitas Gajah Mada Indonesia yang lemah lembut, lucu dan berani berkorban demi mempertahankan cintanya. Sedangkah, tokoh utama pria, Nino, yang berasal dari kampus yang sama dengan Nalia namun merupakan mahasiswa fakultas teknik, digambarkan sebagai pribadi yang pendiam, berbeda dari yang lain dan penuh pengorbanan.
Morra mengeksekusi novel ini nyaris sempurna dengan diksi-diksinya, alurnya yang lamban namun tidak membosankan dan juga disertai ungkapan-ungkapan cantik olehnya dan beberapa tokoh terkenal Indonesia, seperti Tan Malaka dengan ungkapannya “Padi tumbuh tidak berisik.” dan Pramudya Ananta Toer dengan ungkapannya “Engkau terpelajar. Cobalah bersetia pada kata hati.”
Novel ini mengantarkan para pembaca pada masa dimana Indonesia dikepung banyak masalah. Masa saat terjadi demonstrasi dimana-mana. Demonstrasi besar-besaran yang dipelopori para mahasiswa dari setiap penjuru negeri yang mempesoalkan sistem pemerintahan orde baru yang pada saat itu di pimpin oleh Soeharto.
Kisah cinta Nalia dan Nino berawal dari konflik antar fakultas UGM yang justru menyatukan mereka. Konflik yang mengantarkan mereka pada perasaan yang tidak seharusnya ada pada saat itu. Hingga kehadiran Veronika dalam lingkaran cinta mereka yang berujung pada segitiga. Namun kisah cinta yang hadir dalam novel ini sama sekali tidak menimbulkan unsur drama yang berlebihan. Setelah benih-benih cinta antara mereka tumbuh, keadaan membawa mereka kedalam situasi rumit yang mengharuskan Nino turun ke jalanan untuk ber-demonstrasi kepada pemerintah. Menceritakan langsung sistem pemerintahan Indonesia dan tindakan aparat negara yang begitu menjijikan. Menuntut Soeharto untuk lengser dari jabatannya setelah duduk 34 tahun di kursi pemerintahan. Di sela-sela kerusuhan Indonesia, tersisa ruang untuk Nalia dan Nino menguraikan cintanya. Bermimpi tentang janji-janji yang selalu mereka pegang teguh. Berharap keadaan akan kunjung meredam dan semuanya kembali normal.
Hingga bulan Mei 1998 datang. Puncak kerusuhan yang menjadi terakhir kalinya Nino dan Nalia bertemu. Memisahkan dua insan dengan gantungan janji-janji dalam benak mereka masing-masing. Kehilangan Nino dari peredaran membuat Nalia menunggu menunggu dan menunggu. Tanpa kabar. Sampai akhirnya Nino memberinya kabar lewat surat-surat yang menyatakan dia baik-baik saja dan berjanji akan kembali kepada Nalia setelah semuanya berakhir. Janji lagi. Janji yang membuat Nalia tetap berdiri teguh menunggu sosok pria yang mencintainya. Bulan berganti tahun, Nalia semakin jenuh, gusar dan putus asa. Ketidakjelasan akan cinta yang bertahun-tahun diarungi tanpa kepastian membuat Nalia berhenti menunggu. Bayang-banyang akan Nino masih jelas terasa dalam benaknya. Tapi Nalia sadar, kini ia memiliki Faris. Nalia pergi meninggalkan Yogyakarta, lagi-lagi masih membawa kenangannya dengan Nino.
Sampai suatu ketika, letusan merapi yang meluluh-latahkan lebih dari separuh kehidupan di utara kota Yogyakarta. Membawa Nalia kembali ke kampung halamannya. Kata hatinya memandu Nalia kembali ke kampusnya. Universitas Gajah Mada. Tak disangka, sosok berperawakan jangkung itu turut hadir disana. Nino. Sejumput harapan kembali terhinggap pada dua manusia itu. Namun, ternyata takdir lebih kuat dari cinta mereka. Situasi membuat mereka sadar bahwa ikatan mereka telah terputus. Di masing-masing jari manisnya, melingkar cincin yang memperjelas kehadiran orang lain dalam kehidupan mereka masing-masing.
Novel ini merupakan karya tulis yang mempesona. Morra begitu berani memadu padankan elemen-elemen pendidikan sekaligus hukum dan politik kedalam tema percintaan. Permainan Morra dengan ide-idenya yang membuat novel ini menjadi sangat edukatif dan inspiratif. Ceritanya dibuat begitu realistis tanpa adanya unsur mengada-ada.
Ceritanya juga bisa menumbuhkam semangat patriotisme dan nasionalisme bangsa Indonesia. Sehingga sangat baik untuk dibaca para remaja dan golongan lainnya.
Ketersediaan
| 411/14 | 899.2213 QUA n | My Library (RAK UMUM) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
899.2213 QUA n
|
| Penerbit | Gagas Media : Jakarta., 2013 |
| Deskripsi Fisik |
318 hlm.; 13 x 18 cm.
|
| Bahasa |
Bahasa Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
9789797806354
|
| Klasifikasi |
890
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






