Detail Cantuman
Advanced SearchText
SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA DALAM KENANGAN
Jangan tertipu, tentu saja saya tak berkenalan secara langsung dengan Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Rentang usia kami begitu jauhnya sehingga hanya buku atau informasi dari internet yang bisa menjembataninya.
Apa yang saya tahu tentang STA hanyalah bahwa dia penulis novel Layar Terkembang, novel yang sering hadir dalam pertanyaan tes Catur Wulan jaman SMP dan SMA. Keingintahuan saya tentang STA muncul ketika dua tahun lalu saya melihat buku-buku karya/tentang STA dalam sebuah pameran buku di Jakarta. Berhubung saya jarang melihat buku-buku itu di toko buku, saya tak merasa sayang memborongnya. Benar, pameran buku memang cara ampuh membuat kita kalap belanja dalam sesaat.
Sejak saat itu, buku-buku itu belum pernah benar-benar saya baca. Saya lebih sering membuka-buka saja dan membacanya sekilas. Akhirnya baru kemarin saya punya waktu untuk membaca salah satunya. Buku itu berjudul “Sutan Takdir Alisjahbana Dalam Kenangan”, disusun oleh Abuhasan Asy’ari, dan diterbitkan oleh penerbit Dian Rakyat.
Sesuai judulnya, buku ini adalah kumpulan tulisan dari 21 orang yang bercerita tentang berbagai kenangan mereka atas STA. Kenangan itu amat beragam, mulai tentang karya-karya STA, pekerjaannya terkait dengan pengembangan Bahasa Indonesia, polemik kebudayaan, hingga tentang agamanya. 21 orang itu diantaranya adalah Achdiat Karta Mihardja, A. Teeuw, Umar Kayam, Frans Magnis Suseno, dan Arief Budiman.
Dari semua tulisan di buku ini, ada dua tulisan yang menurut saya paling enak dibaca dan mudah dipahami, yaitu tulisan berjudul “Sang Rajawali Telah Membubung Tinggi” karya Budiarto Danujaya dan “In Memoriam Sutan Takdir Alisjahbana” karya A. Teeuw. Pemahaman saya yang terbatas membuat saya tak mudah memahami tulisan-tulisan lainnya. Entah berapa kali dahi saya berkerut dibuatnya. Tapi jangan khawatir, terlalu berat buat saya belum tentu terlalu berat untuk Anda.
Dua tulisan yang saya sebutkan di atas membuat saya sedikit banyak jadi tahu tentang STA. Karya-karyanya begitu banyak, baik dalam bentuk buku maupun artikel. Jumlah bukunya lebih dari 40, separuhnya berupa novel, kumpulan puisi, dan esai. Mengutip tulisan Budiarto Danujaya, “daftar judul semua artikel dan bukunya lebih dari 23 halaman diketik rapat.” (halaman 243). Selain Layar Terkembang (1936), novel lain karya STA adalah Anak Perawan di Sarang Penyamun (1936), Dian yang Tak Kunjung Padam (1932) , Tak Putus Dirundung Malang (1929), Grotta Azzurra (1970), dan Kalah dan Menang (1978). Sedangkan kumpulan puisinya antara lain Tebaran Mega (1935) dan Lagu Pemacu Ombak (1978)
Selain sebagai pendiri gerakan sastra Pujangga Baru, STA juga dikenal sebagai ahli bahasa. Karyanya yang berjudul Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia terbit dalam dua jilid pada tahun 1949 dan merupakan usaha pertama dalam melakukan sistematika tatabahasa Indonesia (halaman 247). Tidak hanya itu, STA juga mendirikan sebuah universitas (Universitas Nasional) , tiga sekolah menengah, sebuah balai kesenian, dan sebuah penerbitan.
Ketersediaan
| 623/08 | 928 ASY s | My Library (RAK UMUM) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
928 ASY s
|
| Penerbit | Dian rakyat : Jakarta., 2008 |
| Deskripsi Fisik |
244 hlm.; 15 x 21 cm.
|
| Bahasa |
Bahasa Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
9795239082
|
| Klasifikasi |
920
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






