Detail Cantuman
Advanced SearchText
IDENTITAS POSKOLONIAL "GEREJA SUKU" DALAM MASYARAKAT SIPIL
Buku setebal 202 halaman yang berjudul Identitas Poskolonial "Gereja Suku“ dalam masyarakat sipil ditulis oleh Martin Lukito Sinaga dan diterbitkan oleh LKiS. Martin Lukito Sinaga adalah dosen biasa pada Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta. Studi formal teologi dimulai pada tahuin 1986 di STT Jakarta dan berkesempatan menjalani ”research scholar” di Universitas Negeri Hamburg Jerman (1996-1998). Ia juga pendeta pada Gereja Kristen Prostetan Simalungun (GKPS). Ia adalah Redaktur Jurnal Teologi Proklamasi dan aktivis dialog dalam Masyarakat Dialog Antar Agama (MADIA).
Dalam tulisannnya, ia menjelaskan bagaimana proyek kolonialisme menghancurkan identitas lokal timur untuk penyeragaman pengetahuan secara global. Hasil studinya tentang soorang kristen Simalungun yaitu Jaulung Wismar Saragih (JWS) sangat menjelaskan bahwa hasil perjumpaan dan negosiasi yang sangat krusial antara kolonialisme religy (Pietisme) Eropa dan identitas lokal ternyata menghasilkan sebuah hybrid baru (the other) di tengah keseragaman agama (religy).
Ia menjelaskan bagaimana JWS telah melakukan kritik terhadap proyek kolonialisasi agama Eropa dan Juga melakukan kritik terhadap Identitas Lokal Simalungun tanpa meninggalkan origynalitas lokal Simalungun. Ia menjelaskan bagaimana kritik JWS terhadap kolonialisasi relygi kristen Eropa adalah tidak lain adalah penyeragaman kepala. Kritik JWS terhadap Identitas Lokal Simalungun sangat juga menjelaskan bahwa Identitas Simalungun adalah bukan identitas lokal yang betul-betul asli (origynal).
Dari hasil perjumpaan kritis inilah sehingga Masyarakat Simalungun menemukan Identitas Poskolonialnya. Identitas Poskolonial Simalungun menurut Martin adalah sebuah identitas yang baru (new hybrid) dan subaltern. Hybrid baru ini harus hidup dan bertahan di tengah-tengah keseragaman pengetahuan dan agama.
Dalam menemukan identitas poskolonialnya, JWS melakukan dekonstruksi (sederhana : pembongkaran) dan perubahan krtis terhadap penyeragaman religy Eropa. Kata ”Allah” diterjemahkan melalui bahasa kebudayaan Simalungun menjadi ”Naibata” sebagai identitas lokal.
Esensi kehadiran dan spirit pietisme Eropa untuk mengkafirkan dunia Religy etnic Simalungun ternyata pupus di tengah proses sejarah Simalungun. Yang hadir hanyalah negosiasi-negosiasi kritis dan radikal antara pietisme Eropa dengan identitas lokal Simalungun. Seperti kata JWS, ”kekafiran yang kalian tuduhkan pada kami dan unsurnya kalian buat mangkir justru inilah yang merupakan pintu masuk bagi kehadiran yang baru dari kekristenan kami”.
Kelainan (otherness) teologis (ketuhanan) dan religiuitas inilah yang merupakan identitas poskolonial Simalungun yang harus hidup dan berjuang di tengah arus penyeragaman pengetahuan dan religy.
Ketersediaan
| 520/06 | 959.8022 SIN i | My Library (RAK UMUM) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
959.8022 SIN i
|
| Penerbit | LKIS PELANGI AKSARA : Jakarta., 2012 |
| Deskripsi Fisik |
168 hlm.; 15 x 21 cm.
|
| Bahasa |
Bahasa Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
9793381418
|
| Klasifikasi |
950
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






