Detail Cantuman
Advanced SearchText
I MOVED YOUR CHEESE (BAGI SIAPA PUN YANG MENOLAK HIDUP DI LABIRIN ORANG LAIN)
Anda pernah membaca buku Who Moved My Cheese (WMMC) karya Spencer Jonshon MD ? Saya bersyukur bila anda pernah membacanya karena buku yang saya bahas kali ini adalah secara tidak langsung “sanggahan” atau bahkan tambahan dari isi buku tersebut. Namun bila memang anda belum pernah membacanya maka akan saya review sejenak. Buku WMMC mengisahkan petualangan 2 ekor tikur bernama Sniff dan Scury serta 2 kurcaci sebesar tikus yang bersifat seperti manusia bernama Hem dan Haw dalam mencari keju di sebuah labirin. Sniff terkenal sebagai si tukang endus sedangkan Scury si tukang lacak. Pada awalnya tikus dan kurcaci selalu berangkat pagi untuk mencari lokasi persediaan keju berada dengan cara coba-coba. Hingga akhirnya mereka menemukan lokasi Cheese C station berada. Mereka pun akhirnya senang dan merasa puas dengan pencapaiannya. Namun lambat laun terjadi dinamika. Keju yang berada di lokasi tersebut semakin lama semakin habis dan lenyap. Mereka pun gusar menghadapi hal tersebut. Disinilah terjadi perbedaan penyikapan. Tikus yang dikenal selalu adaptif tidak tinggal diam, mereka pun terus mencari lokasi keju baru. Namun Hem dan Haw merasa dinamika ini hanya sebentar dan meyakini keju akan kembali memenuhi Cheese C station. Kedua kurcaci ini hanya menunggu tanpa bergerak. Hingga akhirnya Hem berpikir bahwa tidak ada gunanya berdiam diri dan akhirnya mencoba mencari lokasi lain meninggalkan Haw yang tetap meyakini dinamika ini akan kembali seperti semula. Di tempat lain, dua ekor tikus tadi telah menemukan lokasi keju yang baru hingga akhirnya Hem menyusul mereka. Dan 3 makhluk itu pun sukses mendapat keju kembali.
Dari cerita singkat WMMC tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dinamika itu pasti terjadi dan menuntut kita untuk selalu adaptif terhadap segala hal agar tetap bisa survive. Lalu hal apakah yang disoroti oleh buku I Move Your Cheese ini ? Ternyata salah satunya adalah pada pemaknaan kondisi yang terjadi dalam cerita yang disuguhkan. Dalam WMMC sangat jelas bahwa tikus dan kurcaci berada pada desain labirin pihak lain dan sudah tentu pihak lain tersebut memiliki kekuasaan untuk menentukan kapan keju dipindah ataupun dimana keju diletakkan. Hal inilah yang kemudian dijelaskan oleh penulis di bagian awal buku. Setelah mengetahui bahwa kita berada dalam labirin orang lain, timbul pertanyaan lain misalkan mengapa perubahan ini dipaksakan pada kita ? bagaimana kita bisa mengerahkan kontrol yang lebih besar atas hidup kita di masa depan ? dan lain-lain. Hingga akhirnya dapat dinyatakan bahwa hanya dengan bersikap adaptif terhadap dinamika yang terjadi tidaklah cukup untuk mencapai kesuksesan, kita juga perlu tahu cara agar tidak terbelenggu dari labirin orang lain.
Buku ini juga mengisahkah perjalanan tikus seperti halnya pada WMMC namun dengan tiga karakter utama yaitu Max, Zed dan Big. Para tikus ini memiliki kitab suci yang berisikan filosofi untuk terus mencari keju karena telah terjadi perubahan besar pada masa sekarang. Hal inilah yang kemudian diiyakan oleh para tikus sehingga tidak ada lagi yang mempertanyakan “siapa yang memindahkan kejuku” karena semuanya pasti terus mencari dan mencari sehingga muncul persamaan “Anda ingin keju + keju tidak ada lagi di sini” = “pergi ke tempat lain untuk mencari keju”. Ketiga karakter utama tadi tidak serta merta menerima isi kitab suci tersebut. Max bersikap sebaliknya, dia bertekad mencari tahu siapa yang memindahkan keju tersebut. Berbeda dengan Zed, dia berkepribadian menikmati hidup maka tidak heran bila dia tidak terlalu mementingkan isi buku tersebut.
Pada suatu ketika Zed terlibat diskusi dengan tikus muda. Zed pun dengan santai justru menyanggahnya dengan pertanyaan “pernahkah kamu berpikir mengapa perubahan itu tak bisa dihindari ? Pernahkan kamu bertanya mengapa labirin seperti itu tak bisa dihindari?” dan lain sebagainya. Pernyataan itupun akhirnya hanya dianggap suatu hal yang tidak masuk akal oleh para tikus lain. Namun Max berbeda. Dia justru menjawabnya dengan berkata bahwa dia telah mengetahui siapa yang memindahkan keju itu. Mendengar hal itu, semua tikus pun mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan menganggap pernyataan Max adalah hal yang mustahil ditemukan. Max akhirnya hanya membicarakannya dengan Zed, satu-satunya tikus yang masih berpikir kritis. Dan ternyata Max telah menyiapkan cara untuk mengetahui siapa pemindah keju itu yaitu dengan melompati dinding labirin. Melihat ketinggian dinding labirin yang tidak mungkin dilompati secara langsung maka diajaklah Big, tikus terkuat yang ada di sana. Strategi pun disusun dan dilaksanakan hingga akhirnya Max bisa keluar dari labirin itu.
Max yang mampu keluar dari labirin itu akhirnya kembali dengan segudang cerita. Dia menyadari bahwa ada pihak lain yang mengatur labirin beserta keju yang ada. Pihak itu adalah manusia. Setelah sekian kali Max keluar dari labirin dan mempelajari sistem yang ada, dia pun semakin yakin dengan pemikirannya dan bahkan dia mampu melakukan pengaturan labirin beserta kejunya. Dia pun akhirnya dengan puas mengatakan “Aku yang telah memindahkan kejumu” kepada Zed. Walaupun demikian Zed tetap tidak mengiyakannya ataupun menolaknya. Hingga akhirnya Zed menemukan hal baru.
Pada suatu ketika Zed berusaha mencari pembenaran atas pernyataan Max. Di hadapan Max, Zed berusaha menembus dinding labirin itu tanpa bantuan tikus lain. Max awalnya terus memperingatkan Zed untuk berhenti karena dia akan menabrak dinding tebal itu. Namun apa yang terjadi sungguh berbeda, Zed dapat menembus dinding itu dengan mudahnya dan baru pada saat itu dia mengiyakan pernyataan Max. Zed lantas menambahkan pernyataan tersebut. Sesungguhnya pokok permasalahan disini bukanlah pada tikus yang berada dalam labirin melainkan labirin yang yang ada dalam tikus. Akan ada banyak cara untuk keluar dari labirin itu namun semuanya berasal dari keyakinan masing-masing.
Di akhir buku, penulis menambahkan polemik yang kemudian dihadapi oleh para tikus besar seperti Big. Mereka menyadari bahwa lambat laun semua berubah dengan drastis, populasi bertambah hingga akhirnya labirin tidak sanggup menampung semua itu. Dan tikus besar pun mendobrak labirin menuju tempat baru karena yakin labirin tersebut semakin tidak relevan. Demikian buku ini ditutup dengan disertai beberapa pertanyaan diskusi yang cukup menarik bagi individu, kelompok, pendidik hingga para eksekutif.
Buku ini menarik dibaca bagi semua kalangan yang memiliki perjalanan hidup yang cukup sulit dimana berada dalam labirin orang lain. Penulis memang tidak menjelaskan cara praktis untuk menghadapi hal tersebut. Prinsip dasar yang perlu dipahami untuk bertindak justru menjadi hal utama yang ingin disampaikan penulis. Pertanyaan yang disertakan di akhir juga menambah komplit manfaat buku ini. Terakhir saya merekomendasikan buku ini sebagai tambahan wawasan atau bahkan prinsip anda dalam menjalani kehidupan.
Ketersediaan
| 396/15 | 153.8 JOH m | My Library (100) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
153.8 JOH m
|
| Penerbit | MIC (MENUJU INSAN CEMERLANG) : SURABAYA., 2013 |
| Deskripsi Fisik |
260 hlm.; 13 x 19 cm.
|
| Bahasa |
Bahasa Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
9786028482745
|
| Klasifikasi |
150
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






