Image of MILEA: SUARA DARI DILAN

Text

MILEA: SUARA DARI DILAN



Mar
17
MILEA, SUARA DILAN


"MILEA"
SUARA DILAN
- Seperti yang diceritakan oleh Dilan kepadaku -


(Belum diedit)

BAB I
PENGANTAR BUKU

1
Aku tidak jadi nelepon si Komar, tapi sudah membaca dua buku yang ditulis oleh Pidi Baiq, judulnya “Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990” dan “Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991”.

Kebetulan kedua buku itu bercerita tentang kisah asmaraku dengan Lia (Milea Adnan Hussain) pada waktu masih duduk di bangku SMA, tahun sembilan puluhan di Bandung.

Sebetulnya aku tidak ingin berpikir apapun soal itu. Tapi setelah kedua buku itu aku baca, terus terang, aku seperti merasa mendapatkan kehidupanku yang lama sedang kembali. Otomatis semuanya serasa seperti hidup lagi.

Aku juga gak mau menilai lebih jauh mengenai isi bukunya. Tapi waktu kubaca, aku banyak menghabiskan waktu untuk menelaah lebih jauh apa sih yang Lia pikirin, apa sih yang Lia rasakan saat itu. Kukira semua itu bukanlah omong kosong. Itu, buat aku pribadi, sangat menarik, termasuk aku jadi tahu bagaimana dulu Lia memandang diriku melalui apa yang dia ungkapkan.

Meski sebagian besar yang dikatakan oleh Lia pernah Lia ungkapkan sendiri secara langsung ke aku, tapi di buku itu, Lia seperti bercerita dengan tanpa penghalang. Rasanya, gimana ya? Bebas merdeka tanpa tedeng aling-aling.

Di dalam buku itu, aku sendiri menikmati cukup banyak momen-momen berharga yang diceritakan oleh Lia. Sesuatu yang perlu dipertimbangkan kalau aku ingin kembali mengenang. Di sana Lia ngasih tahu bagaimana dia merasakan kembali hal-hal yang sudah lama berlalu. Sampai-sampai aku mengira, dengan buku itu Lia sedang berusaha menggali perasaanku untuk merasakan hal yang sama dengan apa yang dia rasakan saat itu.

Aku tahu tidak ada yang bisa aku lakukan selain menghargai apa yang jadi pendapatnya. Aku memliki rasa hormat setinggi-tingginya untuk mengatakan kepadanya bahwa itu adalah sepenuhnya hak Lia untuk bebas bicara, dan kemudian tetap saja semuanya adalah sejarah.

2
Samasekali gak pernah kuduga kalau kisahku dengan Lia akan ditulis jadi buku. Dan sebetulnya aku malu, karena di buku itu aku ngerasa jadi tokoh utama yang punya kedudukan cukup istimewa, terutama kalau Lia sudah mulai memujiku.

Juga sekaligus jadi risih, karena di situ aku betul-betul jadi kayak orang yang amat dimaui. Seolah-olah, aku ini, yang barusan makan nasi bakar, adalah orang yang paling menakjubkan di dunia dan juga romantis dengan apa yang pernah aku lakukan kepadanya. Sebagian besar yang bisa aku lakukan untuk hal itu adalah cuma tersenyum.

Tapi, kukira, kalau dulu Lia punya sikap macam itu ke aku, harusnya bisa kuanggap sebagai hal yang normal, karena kalau ada orang yang sudah cinta ke kamu, dia hanya akan melihat sisi baikmu. Dan kalau kamu berpikir tentang hal ini, kebanyakan kisah cinta memang selalu dimulai dari hal macam itu.

3
Kupikir, harusnya aku merasa beruntung dengan adanya buku itu, nyatanya memang iya. Kedua buku itu sudah membantuku mengingat masa-masa yang sudah berlalu, maksudku aku cuma tinggal baca saja, gak usah capek-capek nulis kalau ingin mengenang apa yang dulu pernah aku dan Lia alami.

Apalagi sebagian besar cerita yang ada di dalam buku itu, memang sangat sesuai dengan kejadian sebenarnya, malahan aku merasa ceritanya cukup detil. Entah bagaimana Lia bisa mengingat semuanya, padahal kejadiannya sudah lama sekali.

4
Gak tahulah. Pokoknya aku mau berterimakasih ke Pidi Baiq, pertama-tama untuk kedua bukunya yang kudapatkan secara gratis. Maksudku, tanpa perlu melihat situasi ekonomi saat ini, kita perlu memahami alasan mengapa kebanyakan dari kita lebih suka dikasih daripada membeli. Kedua, ya itu tadi, bisa membantu aku mengingat lagi masa-masa remajaku di saat aku masih bersama dengan Lia.

Sekalian aku juga mau bilang terimakasih ke Lia, karena kata Pidi Baiq, data dan informasi untuk menulis buku itu 60% adalah bersumber dari Lia sendiri. Itu artinya Pidi Baiq hanya mengolah data yang bersumber dari Lia untuk kemudian dia susun menjadi sebuah buku novel yang lengkap, dan dari apa yang sudah dia lakukan itu, segalapuji bagi Allah, Pidi Baiq dapat uang royalti.
“Tapi setengahnya, aku kasih ke Lia”, katanya
“Royalti?”
“Iya”, jawabnya. “Lia juga harus dapat”

Ini berarti bisa sama-sama kita katakan, bahwa buku “DILAN, dia adalah Dilanku”, semua cerita di dalamnya berdasar pada apa yang bisa diingat dan dikatakan oleh Lia, dan kukira itu adalah haknya karena selain diriku, Lia juga adalah pemilik masa lalu yang bersangkut paut dengan kisah asmara antara aku dan dia.

5
Tanggal 15 Agustus 2015, Pidi Baiq datang ke rumahku. Kami ngobrol berdua cukup lama, terutama membahas buku itu, sampai kemudian dia bilang bahwa katanya dia mau nulis buku “Suara Dilan”, itu membuat aku ketawa karena merasa aneh ada novel macam gini. Dia juga ketawa, dan bilang “Suara Dilan” itu adalah buku yang berisi kisah aku dan Lia, sama seperti buku “Dilan, dia adalah Dilanku” tetapi bersumber dari sudut pandangku.

Hmm. Sebenarnya aku pribadi lebih suka cerita Spiderman, yaitu Spiderman menurut versiku sendiri. Kamu harus tahu bagaimana Spiderman bisa dikalahkan oleh hanya dua cucu Kelongwewe.
Atau kalau bukan yang itu, aku lebih suka cerita tentang si Piyan yang pernah nyihir aku jadi seekor kucing, cuma agar dengan itu aku bisa dikejar sampai depresi dan kehilangan nafsu makan. Si Piyan emang gitu, menurut pribadiku dia itu sedikit lebih baik dari kuman, makanya jangan sampai kamu heran kalau ada banyak kuman yang mau ke dia.

Cerita tentang Spiderman versiku, atau cerita tentang aku yang disihir jadi kucing garong, kurasa lebih oke daripada harus bercerita tentang kisah asmaraku dengan Lia. Maaf, maksudku pada situasi yang serius, sebetulnya aku merasa gak enak kalau harus nyeritain lagi apa-apa yang dulu pernah aku alami dengan Lia, mengingat Lianya juga sekarang sudah menjadi istri Mas Herdi yang sangat aku hormati.

Biar bagaimanapun soal ini harus aku katakan karena, dari dasar hatiku yang paling dalam, aku tidak ingin kelak ada salah tanggap dengan apa yang aku ceritakan tentang Lia dan orang yang sudah bersamanya sekarang. Samasekali aku tidak bermaksud mau berdebat soal ini, tetapi itulah yang aku pikirkan.

6
Pidi Baiq mengerti, dan kemudian dia bilang, bahwa pada intinya bukan lagi soal asmara. Novel “Suara Dilan” harus bisa menjadi pelajaran buat mereka yang baca. Hah? Pelajaran macam apa? Entahlah, tapi setidaknya ada orang yang bilang bahwa novel Dilan itu bisa dianggap seperti buku taktik menguasai wanita. Mungkin Pidi Baiq bercanda, tetapi bisa jadi begitu oleh orang yang menganggapnya begitu.

Katanya, di buku itu ada juga pelajaran ekonomi, terutama cerita tentang aku ngasih kado ulangtahun berupa buku TTS yang sudah kuisi. Aku ketawa karena aku berpikir barangkali itu berdasar pada seolah-olah aku sedang berusaha ngajarin bagaimana caranya ngasih kado dengan biaya yang irit, meskipun jujur saja, sebetulnya bikin capek, karena harus begadang semalaman untuk bisa mengisi jawabannya. Tapi justeru emang di situlah nilainya: Perjuangan he he he!

Ada juga pelajaran olah raga. Berantem itu, katanya, sama seperti olahraga. Sama-sama melakukan gerakan badan sampai ngeluarin keringat, meskipun badan kita jadi sakit dikarenai oleh luka! Tapi harus mikir panjang, jangan sampai asal berantem.

Sedangkan di buku DILAN kedua, di situ sepertinya Lia banyak nangis! Tapi katanya, itu juga memberi kita pelajaran, yaitu pelajaran Biologi, bahwa air mata itu, air mata yang mengalir di pipi itu, adalah kelenjar yang diproduksi oleh proses lakrimasi untuk membantu membersihkan dan melumasi mata kita he he he.

7
Pidi Baiq terus membujukku untuk mau membantu dia mewujudkan buku “Suara Dilan”, oke, tapi aku tidak benar-benar punya waktu yang dijadwalkan untuk duduk dan menulis macam dia.
Juga, bukan orang terbaik yang bisa menceritakan kisah-kisah macam itu. Tapi kalau cuma ngasih masukan sebagaimana Lia lakukan, sepertinya aku siap. Mudah-mudahan bisa aku nikmati meskipun aku tidak pernah berpikir berencana untuk menulis cerita macam ini.

Siaplah kalau begitu, aku mau cerita.


Ketersediaan

403/16813 BAI mMy Library (RAK UMUM)Tersedia

Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
813 BAI m
Penerbit PASTEL BOOKS : Jakarta.,
Deskripsi Fisik
310 hlm.; 15 x 21 cm.
Bahasa
Bahasa Indonesia
ISBN/ISSN
9786020851563
Klasifikasi
800
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subyek
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this