
<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="4623">
 <titleInfo>
  <title>SENSASI SELEBRITI</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>SIRIKAT SYAH</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm>
   <publisher>PUSTAKA PELAJAR</publisher>
   <dateIssued>2007</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">IND</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Bahasa Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>viii + 114 hlm.; 15 x 21 cm.</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Ketika membaca kisah-kisah dalam kumpulan cerpen â€œSensasi Selebritiâ€; saya seolah diajak untuk berfenomenologi. Fenomenologi muncul sebagai bentuk ketakpuasan pada kecenderungan manusia untuk mengonstruksi (sosial) apapun yang dilihatnya; sehingga realitas tak menampakkan diri apa adanya. Konstruksi itupun tak jarang dimuati anggapan atau tafsiran sehingga realitas itu menjadi terpasung dalam bangunan benar-salah; pantas-tidak pantas; boleh-tidak boleh dan seterusnya. Dalam fenomenologi dihadirkan sebuah pendekatan deskriptif murni; bukan normatif. Pendekatan inilah yang dalam amatan saya; juga dihadirkan oleh Sirikit Syah dalam â€˜Sensasi Selebritiâ€™.rnrnSecara sederhana; fenomenologi bisa kita pahami sebagai ilmu (logos) tentang hal-hal yang menampakkan diri (phainomenon). Phainomenon adalah kata dalam bahasa Yunani yang berakar pada kata phainesthai atauâ€™yang menampakkan diriâ€™. Apa yang menampakkan diri? Bisa macam-macam: perasaan; benda; peristiwa; tubuh; pikiran; lembaga; dsb. Segala yang menampakkan diri itu disebut fenomen. Dalam â€˜Sensasi Selebritiâ€™; fenomen itu ada dalam 13 cerita pendek yang bertutur tentang hati seorang laki-laki; pembelaan terhadap poligami; perslingkuhan hingga potret buram kebebasan pers.rnrnBerfenomenologi; bersikap sebagai pemularnrnApa maksudnya berfenomenologi? Berfenomenologi pada dasarnya adalah ajakan untuk bersikap sebagai pemula. Pemula yang bagaimana? Pemula yang â€˜tidak merasa sudah selalu melihatâ€™ dan merasa apa yang sudah selalu terlihat memang seharusnya terlihat seperti itu. Titik pembahasan fenomenologi terletak pada persoalan ketika melihat sesuatu; kita seringkali sudah yakin dengan tafsir taken-for-granted atas apa yang terlihat; misalnya ketika melihat fenomen poligami atau perselingkuhan. Lalu; kitapun menempatkan realitas itu dalam konstruksi benar-salah; boleh-tidak boleh; pantas-tidak pantas; dst dan kehilangan esensi realitas yang sebenarnya. Pada titik inilah fenonenologi bukan mau membaca dalam konstruksi sosial melainkan mencoba membiarkan menampak asal-usul dari realitas yang menampak.rnrnBersikap sebagai pemula; berarti dengan rendah hati meragukan konstruksi yang kita buat atas suau realita. Seperti ketika saya membaca kisah berjudul: â€œDia ingin dimaduâ€; â€œHati Lelakiâ€; â€œLelaki dari Masa Laluâ€; pada kisah itu pembaca diajak untuk membaca deskripsi realita dan bukan mengonstruksi realita itu dengan label: â€˜Menyelewengâ€™; â€˜Dosaâ€™; â€˜Mengumbar Nafsuâ€™ dan sejenisnya. Melalui deskripsi itulah pembaca diajak untuk menyadari bahwa di luar konstruksi sosial atas realita; terdapat hal yang sejatinya manusiawi. Hal yang manusiawi inilah yang jika kita renungkan kerap terpinggirkan ketika realitas tak dibiarkan menampak apa adanya. Di sinilah diperlukan kebijakan untuk bersikap sebagai pemula.rnrnMembiarkan â€˜Adaâ€™ menampakrnrnMenampaknya fenomen ini juga sempat dibahas Martin Heidegger sebagai upaya membiarkan â€˜Adaâ€™ menampak pada diri â€˜Adaâ€™ itu sendiri. Artinya; kita tak memaksakan penafsiran-penafsiran begitu saja; melainkan membuka diri; membiarkan â€˜Adaâ€™ terlihat (Sehenlassen). Pada titik ini; cara berpikir sejatinya juga dipersoalkan; karena ciri utama berpikir adalah penciutan pluralitas â€˜Adaâ€™ di antara manusia menjadi sebatas â€˜Aku-bersama-dirikuâ€™. Ketika â€˜Aku-tengah-Berpikirâ€™ (Ego Cogito); maka saat itu juga â€˜Akuâ€™ memisahkan diri dari orang; benda; dan peristiwa di sekitarku dan masuk dalam orang; benda; dan peristiwa yang sebatas ada dalam pikiranku.rnrnTitik di mana â€˜Aku-tengah-Berpikirâ€™ inilah yang mesti disertai keterbukaan pada kemungkinan â€˜Adaâ€™-nya yang lain dari yang bisa kupikirkan. Kemawasan bahwa bagaimana â€˜Aku-Berpikirâ€™ tak lepas dari konstruksi yang kumiliki sebagai hasil pembelajaran di masa lalu. Dengan fenomenologi; kita diingatkan bahwa kita juga leluasa membolak-balik semua konstruksi ketertiban sehari-hari sehingga bisa kuhadirkan masa lalu yang sudah lenyap sekaligus bisa kuimajinasikan kemungkinan dari masa depan yang belum ada.rnrnPengalaman â€˜Aku-Berpikirâ€™ (The Thinking Ego) inilah yang agaknya coba dieksplorasi dalam fenomenologi kisah demi kisah di buku â€˜Sensasi Selebritiâ€™. Sirikit mengajak pembaca untuk keluar dari â€˜Aku-Berpikirâ€™ yang terbatas dan menyentuh the never neverland alias dunia yang tak kita alami sebatas konstruksi sosial; seperti tampak dalam kisah â€œHadiahâ€ dan â€œPerempuan Suamikuâ€. Di sinilah kegiatan berpikir mengikutsertakan dunia yang menampak dalam kisah tetapi dengan terlebih dulu menanggalkan materialitas konstruksi; lalu barulah memunculkan kembali penampakan realitas itu dalam ingatan serta menatanya secara leluasa dalam imajinasi kita sebagai pembaca.rnrnSecara umum; kisah-kisah dalam â€˜Sensasi Selebritiâ€™ ini bertutur mengenai peristiwa yang bisa terjadi pada siapa saja dan di mana saja. Namun; peristiwa-peristiwa itu juga yang kerapkali kemenampakkannya selalu terjerat dalam konstruksi sosial atas realita. Ketika anda membaca â€˜Sensasi Selebritiâ€™ dengan menggunakan konstruksi sosial anda; bisa jadi andapun akan terjebak untuk membenarkan-menyalahkan entah tokoh dalam cerita atau malahan penulisnya. Namun; ketika pembacaan itu dilakukan dengan berfenomenologi; maka akan ditemukan menampaknya kemungkinan yang lain dari apa yang selama ini diterima secara taken-for-granted. Baik membaca dengan konstruksi sosial ataupun berfenomenologi; keduanyapun adalah pilihan bebas pembaca; tak ada benar-salah atau mana yang lebih baik; namun pilihan andalah yang menampakkan siapa anda sebenarnya.</note>
 <subject authority="">
  <topic>KESUSASTERAAN INDONESIA</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>NOVEL</topic>
 </subject>
 <classification>810</classification>
 <identifier type="isbn">9789791277389</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Dempoers Library Book is My Life Style</physicalLocation>
  <shelfLocator>813.01 SYA s</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">801/07</numerationAndChronology>
    <sublocation>My Library (RAK UMUM)</sublocation>
    <shelfLocator>813.01 SYA s</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>SENSASI_SELEBRITI.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>4623</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">0000-00-00 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2013-05-07 09:41:59</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>