Detail Cantuman
Advanced SearchText
BUKAN PASAR MALAM
Buku setebal 104 halaman; terbitan Lentera Dipantara ini menceritakan tentang bagaimana dunia ini tidak seperti pasar malam; dimana manusia berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang; seperti dunia pasarmalam; seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah kemana.rnrnDikisahkan juga bagaimana keperwiraan seorang dalam revolusi yang pada akhirnya melunak ketika dihadapkan pada kenyataan sehari-hari: ia menemukan ayahnya yang seorang guru penuh bakti tergolek sakit karena TBC; anggota keluarganya yang miskin; rumah tuanya yang sudah tidak kuat lagi menhan arus waktu; dan menghadapi istri yang cerewet.rnrnPotongan-potongan kisah itu diungkapkan dengan sisa-sisa kekuatan jiwa yang berenangan dalam jiwa seorang mantan tentara muda revolusi yang idealis. Lewat tuturan yang sederhana dan fokus; tokoh “Aku†dalam roman ini tidak hanya mengkritik kekerdilan diri sendiri; tapi juga menunjuk muka para Jenderal atau pembesar-pembesar negeri pasca kemerdekaan yang hanya asik mengurus dan memperkaya diri sendiri.rnrnDisini kita bisa dengan jelas dan gamblang mendapati bahwa Pramoedya Ananta Toer dengan sangat lihai membawa kita kembali kepada masa ketika awal kemerdekaan. Gambaran tentang kegelisahan seorang anak mendapati surat dari seorang paman yang mengabarkan berita duka; bahwa Ayahanda yang sangat dicintainya terbaring lemah di rumahsakit.rnrnGambaran tentang pandangan hidup seorang pejuang revolusi yang berakhir menjadi seorang pegawai kecil yang terlupakan. Dan bagaimana demokrasi mempengaruhi semua pandangan hidupnya tentang kemiskinan; dan semua hal yang pantas dan tidak pantas didapat oleh setiap orang. Karena orang yang tidak punya selamanya akan menjadi penonton dari sandiwara di dunia ini. Dunia demokrasi dimana kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau.rnrnDan kesadaran bahwa nasib setiap anak manusia itu tidak ada ditangan manusia itu sendiri; bahwa umur; kesehatan dan kematian itu ada ditangan Tuhan. Kita hanya bisa berserah diri dan selalu berjuang untuk bisa melewati semua cobaanNya.rnrnDan pada akhirnya satu persatu dari kita; harus meninggalkan bumi ini. Sedangkan satu persatu juga anak manusia terlahir di dunia ini. Karena dunia ini bukan pasar malam; dimana orang terlahir ramai-ramai; dan meninggal beramai-ramai.
Ketersediaan
| 969/08 | 813.08 TOE b | My Library (RAK UMUM) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
813.08 TOE b
|
| Penerbit | LENTERA DIPANTARA : Jakarta., 2003 |
| Deskripsi Fisik |
106 hlm.; 11 x 17 cm.
|
| Bahasa |
Bahasa Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
9789799731210
|
| Klasifikasi |
810
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






